Cepern, masih mentah sebenarnya, belum ada finishing touchnya, tapi nggak ada niat juga buat mempercantiknya. hehe. maaf apabila ada salah dalam kronologis penulisan sejarahnya. selamat membaca.
September,
1941
Aku ingin memeluknya lebih lama
lagi, putri kecilku yang baru berumur 8 tahun. Rambut pirangnya terikat oleh
pita kuning usang, kuusap lembut pipinya yang masih lembab, hingga kupandangi
lekat-lekat mata birunya yang berkaca-kaca. Ah, mata itu mengingatkanku pada Marta.
Apa harus terulang lagi? Bahkan rasa sakit dan penyesalan atas kehilangan Marta
masih menghantuiku setiap malam, dan kini hal yang sama bisa saja terjadi pada
putri kami, Liliya.
“Ayah akan datang menyusulmu, perang
tidak akan berlangsung selamanya. Ayah akan menjemputmu, lebih cepat dari yang
kau bayangkan.” Aku mencoba tersenyum, menggenggam tangan mungilnya, memberi
harapan padanya, satu-satunya yang mungkin kulakukan saat ini.
Liliya membuang muka, menarik
tangannya dari genggamanku, “Ibu juga mengatakan hal yang sama, dan dia tak
pernah datang lagi. Kalian hanya ingin meninggalkanku disini.”
“Tidak, Liliya. Ayah tidak akan
pernah meninggalkanmu sendirian. Ayah janji,” aku melepaskan jam tangan hitam
di pergelangan tangan kiriku, “Bawalah ini bersamamu, rawat baik-baik, suatu
saat, ayah akan membelikanmu yang lebih bagus dari ini. Mengerti? Liliya si
gadis tangguh?” Saat itu ia memberikanku pelukan terakhirnya, sebelum aku
mengantarnya menuju rombongan anak-anak lain menuju kamp perlindungan.

