Thursday, March 16, 2017

Janji di Tanah Linengrad

Cepern, masih mentah sebenarnya, belum ada finishing touchnya, tapi nggak ada niat juga buat mempercantiknya. hehe. maaf apabila ada salah dalam kronologis penulisan sejarahnya. selamat membaca.


September, 1941

Aku ingin memeluknya lebih lama lagi, putri kecilku yang baru berumur 8 tahun. Rambut pirangnya terikat oleh pita kuning usang, kuusap lembut pipinya yang masih lembab, hingga kupandangi lekat-lekat mata birunya yang berkaca-kaca. Ah, mata itu mengingatkanku pada Marta. Apa harus terulang lagi? Bahkan rasa sakit dan penyesalan atas kehilangan Marta masih menghantuiku setiap malam, dan kini hal yang sama bisa saja terjadi pada putri kami, Liliya.

“Ayah akan datang menyusulmu, perang tidak akan berlangsung selamanya. Ayah akan menjemputmu, lebih cepat dari yang kau bayangkan.” Aku mencoba tersenyum, menggenggam tangan mungilnya, memberi harapan padanya, satu-satunya yang mungkin kulakukan saat ini.

Liliya membuang muka, menarik tangannya dari genggamanku, “Ibu juga mengatakan hal yang sama, dan dia tak pernah datang lagi. Kalian hanya ingin meninggalkanku disini.”

“Tidak, Liliya. Ayah tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian. Ayah janji,” aku melepaskan jam tangan hitam di pergelangan tangan kiriku, “Bawalah ini bersamamu, rawat baik-baik, suatu saat, ayah akan membelikanmu yang lebih bagus dari ini. Mengerti? Liliya si gadis tangguh?” Saat itu ia memberikanku pelukan terakhirnya, sebelum aku mengantarnya menuju rombongan anak-anak lain menuju kamp perlindungan.