Tuesday, September 27, 2016

[Batas Temperature : Dingin Absolut dan Panas Absolut]


Oke. Balik lagi sama saya. Kali ini bahasannya agak berat, jarang-jarang saya bikin artikel serius lho. Selain biar nggak dikira blog ini isinya nyampah doang, benernya saya seorang pecinta bacaan scientific kok, apalagi yang ada bumbu-bumbu konspirasinya, hehe. *Jadinya nggak  scientific dong, gimana sih… anyway, mohon koreksinya apabila ada salah-salah, artikel ini saya ketik dengan bahasa sesederhana mungkin dengan maksud dapat dinikmati oleh orang awam sekalipun.
Pernahkah anda-anda sekalian bertanya-tanya, berapakah suhu paling dingin dan paling panas di alam semesta ini? Dan anda ingin tahu jawabannya? mari kita bahas bersama-sama.

Sunday, September 25, 2016

Membunuh Sepi

Aku mengayuh lagi sepedaku, kali ini sedikit lebih kencang. Masa bodoh dengan keringat yang kian mengucur membasahi kemeja biru muda yang ku kenakan. Terpaan angin bersama dedaunan kering beberapa kali menghalau lajuku, tapi aku tak gentar. Melalui jalanan berbatu dengan tanah kering berdebu, lalu membelok tepat dibalik pohon beringin tua di ujung sana. Dari sana pemandangan lain menghampar, liukan setapak yang kian mengecil, bukit-bukit gempal dengan hijau yang tenang dan tentunya sungai kecil yang membelahnya. Semuanya temaram oleh mendung.
            
Dari kejauahan aku melihat sosok bertubuh mungil tengah bermain dengan riak sungai yang lembut. Kupercepat kayuhanku, dan memang tak butuh lama hingga aku tiba beberapa jengkal di belakang punggungnya. Aku membanting sepedaku ke tanah berumput, lalu merapat ke arah gadis kecil berambut pirang itu. Dia menyadari kedatanganku, tentu saja.
            
Ia tersenyum. Senyuman yang sama yang pernah memikatku lima puluh tahunan yang lalu. Ketika itu aku masih tujuh tahun, masih kuingat kami memiliki tinggi badan yang sama, bedanya sekarang aku sudah mencapai tinggi pria dewasa pada umumnya, tapi ia tak berubah barang setitik pun. Kami terbiasa bermain di sekitaran sungai ini, bersama dengan anak-anak yang lain. Seingatku, ketika berumur dua belas tahun lah aku mulai jarang mengunjungi tempat ini, dan akhirnya benar-benar kutinggalkan setelah semakin banyaknya kesibukan yang kumiliki. Kadang aku iri dengannya, hidup selamanya sebagai anak-anak, sementara diriku kian lama kehilangan kebebasan seiring dengan datangnya tanggung jawab kedewasaan.

Wednesday, September 21, 2016

[Balada Penunggu Bus AntarKota] Part 1


            Ini tentang makhluk itu.
            Ya. Balok besi beroda empat, karatan, sumpek, dan bau muntahan. Tapi, entah mengapa, makhluk ini pula yang tak disangka-sangka bakalan sering menemaniku, dan diam-diam aku mengaguminya—dengan segala keruwetannya. Terbukti dengan menjadikan makhluk ini sebagai bahasan pertama di blog anyarku ini. Haha
            Saya sendiri mulai rutin menaiki makhluk ini—sebentar, kok jadi terkesan tidak senonoh—. Ralat, saya sendiri mulai menunggangi makhluk ini—Lebih parah ya, maaf—. *Abaikan.
            Berawal dari resminya saya menjadi mahasiswa kira-kira dua tahun lalu, saya harus terpaksa membiasakan diri bertemu dengan makhluk ini, hampir tiap minggu. Yep, saya memang pulang kampung sesering itu. Selain karena memang kota perantauannya nggak terlalu ‘merantau’, ada alasan lain yang mungkin akan saya ceritakan di post-post selanjutnya. 
Akibatnya, saya jadi terpapar oleh macam-macam penunggu bus antarkota yang so unique. Maap sok inggris dikit. Hingga kadang-kadang saya berpikir, bahwa saya terlihat sedikit terlalu normal dibandingkan dengan para penunggu ini. Nggak percaya? Saya jabarin nih satu per satu jenis-jenisnya, tapi sebelumnya, saya mohon maaf sebesar-besarnya buat para penunggu bus kota yang lain jika tulisan ini menyinggung anda-anda semua. *ini tulus lho