Aku
mengayuh lagi sepedaku, kali ini sedikit lebih kencang. Masa bodoh dengan
keringat yang kian mengucur membasahi kemeja biru muda yang ku kenakan. Terpaan
angin bersama dedaunan kering beberapa kali menghalau lajuku, tapi aku tak
gentar. Melalui jalanan berbatu dengan tanah kering berdebu, lalu membelok
tepat dibalik pohon beringin tua di ujung sana. Dari sana pemandangan lain
menghampar, liukan setapak yang kian mengecil, bukit-bukit gempal dengan hijau
yang tenang dan tentunya sungai kecil yang membelahnya. Semuanya temaram oleh
mendung.
Dari kejauahan aku melihat sosok bertubuh mungil tengah bermain dengan riak sungai yang lembut. Kupercepat kayuhanku, dan memang tak butuh lama hingga aku tiba beberapa jengkal di belakang punggungnya. Aku membanting sepedaku ke tanah berumput, lalu merapat ke arah gadis kecil berambut pirang itu. Dia menyadari kedatanganku, tentu saja.
Ia tersenyum. Senyuman yang sama yang pernah memikatku lima puluh tahunan yang lalu. Ketika itu aku masih tujuh tahun, masih kuingat kami memiliki tinggi badan yang sama, bedanya sekarang aku sudah mencapai tinggi pria dewasa pada umumnya, tapi ia tak berubah barang setitik pun. Kami terbiasa bermain di sekitaran sungai ini, bersama dengan anak-anak yang lain. Seingatku, ketika berumur dua belas tahun lah aku mulai jarang mengunjungi tempat ini, dan akhirnya benar-benar kutinggalkan setelah semakin banyaknya kesibukan yang kumiliki. Kadang aku iri dengannya, hidup selamanya sebagai anak-anak, sementara diriku kian lama kehilangan kebebasan seiring dengan datangnya tanggung jawab kedewasaan.
“Dimana yang lain?” tanyaku setelah melihat sekeliling, memastikan hanya dirinya yang ada di sana.
“Aku tidak tahu. Satu per satu dari mereka hilang entah kemana, mungkin mati diterkam binatang buas, atau entahlah, aku benar-benar tidak tahu. Sudah lama aku sendirian.” Ia menjawab dengan santai sambil memainkan telapak kakinya di tengah riak sungai.
Aku mengernyit, “Bagaimana bisa? Apa yang terjadi?”
Gadis itu balik menatapku, kali ini dengan ekspresi datar. “Bukankah seharusnya aku yang bertanya kepadamu? Bukankah kau yang menginginkan ini?”
Aku benar-benar tak mengerti. Kuputuskan untuk kembali bertanya, “Apa maksudmu? Aku sama sekali tak—“
Ia melompat ke arahku, gaun merah mudanya ikut terayun sebelum ia mendarat tepat di depanku. Wajahnya mendongak, matanya yang hijau menatapku lekat-lekat, membuatku semakin tak mengerti. Lalu secara tiba-tiba ekspresinya berubah geram, refleks aku mundur seketika, jujur, aku selalu takut dengan kemarahannya.
“Kau lupa? Atau berpura-pura bodoh?” Aku tak menjawab, toh dengan cepat ia menyambung lagi kata-katanya, “Kau membuang Ted, padahal ia sama sekali tak bersalah. Tega sekali kau!”
“Ta-tapi aku tak melakukan apapun.”kilahku. Dan aku memang benar-benar yakin tak pernah ingat telah membuang salah satu sahabat masa kecilku itu.
“Astaga, kau benar-benar bodoh. Ingat empat puluh lima tahun yang lalu! Ketika kau rela mengubur impianmu sebagai dokter hanya karena kau merasa tak cukup pandai untuk meraihnya. Oh, dan ingat lagi, ketika kau dengan tanpa rasa bersalah membuang kesempatan untuk mengikuti kejuaraan melukis sebab kau takut menelan kekalahan.”
“Dan apa hubungannya itu semua dengan Ted?”
Gadis kecil itu tersenyum kecut, lalu tertawa terpingkal-pingkal. “Kau tidak tahu siapa Ted?” tanyanya disela-sela tawanya.
“Dia adalah teman kita, kan? Bocah pendek dengan semangat yang tinggi—“
“Cukup!” Lagi-lagi ia memotong pembicaraanku, tawanya sudah mereda, kembali dengan ekspresi marahnya. “Aku tidak tahan lagi dengan kebodohanmu. Ted adalah wujud sikap Optimisme. Dan ketika kau kehilangan kepercayaan dirimu, rasa optimismu, buat apa lagi dia harus hidup? ”
“Aku hanya mencoba realistis”sergahku sengit. “Kau akan merasakannya ketika kau menjadi dewasa, kau akan dihadapkan banyak pertimbangan, semuanya harus matematis, presisi. Resiko harus dihitung. Dan kau akan berpikir optimisme saja tak akan membawamu kemana-mana.”
“Tepat sekali. Karena itulah Ted memang pantas mati, bukankah begitu?” Gadis itu kembali mendekatiku. “Bukan hanya Ted, kau tentu ingat Rea, Lei, Mic, dan Klu. Apa alasanmu membunuh mereka semua? Demi untuk menjadi dewasa, heh?”
Sebentar, aku mulai memutar-mutar lagi ingatanku. Rea, dia adalah gadis berambut merah yang kerap kali melontarkan kata-kata humor atau melakukan tingkah-tingkah konyol. Lalu, Lei adalah bocah laki-laki berbadan gempal yang sering mengigau hal-hal tak masuk akal. Dan entah apa yang terjadi, aku merasa mataku mulai basah mengingat mereka semua.
“Rea... dia adalah sahabatku, kau tahu? Sudah lama ia menghilang. Tepatnya ketika kau telah kehilangan selera humormu yang dulu. Dimana keceriaanmu yang dulu? Kemana perginya bocah laki-laki ceria yang dulu begitu mencintai kami semua?” Ia jelas tak membutuhkan jawabanku. Lagipula lidahku terasa kelu sekarang.
Gadis kecil itu melanjutkan lagi, “Lei, wujud imajinasimu. Dia yang terakhir kali bersamaku, meski begitu, toh dia mati juga. Dan Mic, wujud kepolosan, lenyap tak berbekas, aku bahkan tidak sanggup harus bercerita bagaimana kejamnya kau membunuhnya.”
“Cukup, Qiu.” Akhirnya suaraku kembali. “Oke, aku menyesal. Kalau saja aku bisa membawa mereka kembali, aku pasti akan melakukannya.”
“Yang mati tidak akan pernah kembali.” Gadis yang kupanggil Qiu membalas dengan cepat.
Aku sudah menduga jawabannya, “Setidaknya kau masih ada disini sekarang. Aku tak akan kesepian di hari tuaku.”
Qiu terbahak, “Oh, kurasa ajalku sudah tiba. Aku tak menyangka akan melihatmu sampai berumur enam puluh lima tahun. Aku sangat senang akhirnya hari ini terjadi, kau tahu? Hampir lima puluh tahun aku kesepian disini, kau tahu? Akhirnya aku akan menyusul mereka.”
Aku dengan cekatan menarik pergelangan tangan Qiu, menggenggamnya dengan erat dengan kedua tanganku yang tak lagi sekuat dulu. “Apa yang terjadi? Apa lagi yang kulakukan? Aku tidak ingin sendirian.”
Qiu merubah ekspresinya lagi, menjadi gadis kecil yang manis. “Aku memang terlahir untuk mati. Aku adalah kenangan masa kecilmu, aku adalah pemilik tempat ini. Ketika kau kembali kesini setelah semuanya telah mati, maka disitulah ajalku tiba. Setelah ini kau bahkan akan melupakanku, juga Mic, Lei, Rea, Klu, dan Ted. Selamat tinggal kawanku, aku senang sekali akhirnya kau kembali kesini setelah lima puluh tahun berlalu.”
Aku menangis, “Ke-kenapa? Aku tidak akan pernah lupa, begitu banyak yang telah kita lakukan. Begitu banyak kenangan indah, begitu banyak hal yang tak mungkin bisa kulupakan. Aku berjanji akan mengunjungimu setiap hari, setiap jam, bahkan setiap menit jika kau mau.”
“Terlambat, kakek tua.” Qiu terkikik. “Seharusnya kau melakukannya sejak dulu, percayalah, sejujurnya kami semua ingin mati bersama dirimu. Tapi kami tak bisa berbuat apa-apa, kami tak sanggup mengganggu euphoria kedewasaanmu itu, kami senang kau telah menjadi dewasa, meski satu per satu dari kami mati karenanya. Sampai jumpa ya”
Rasanya
genggaman tanganku menjadi seringan angin ketika tubuh Qiu mendadak melebur
menjadi terpaan angin hangat. Aku tertunduk lesu, kedua lututku merosot ke
tanah berumput ini. Riak-riak sungai itu, pepohonan yang disana, batu-batu kali
berlumut itu, aku merindukan semuanya. Aku teramat merindukan teman-teman masa
kecilku itu. Bisa-bisanya aku menentelarkan tempat ini demi ambisi masa mudaku.
Dan kini, di masa-masa tuaku, aku kehilangan semuanya, tanpa kekuatan masa
mudaku, pun tanpa sahabat-sahabat masa kecilku.
No comments:
Post a Comment