Wednesday, September 21, 2016

[Balada Penunggu Bus AntarKota] Part 1


            Ini tentang makhluk itu.
            Ya. Balok besi beroda empat, karatan, sumpek, dan bau muntahan. Tapi, entah mengapa, makhluk ini pula yang tak disangka-sangka bakalan sering menemaniku, dan diam-diam aku mengaguminya—dengan segala keruwetannya. Terbukti dengan menjadikan makhluk ini sebagai bahasan pertama di blog anyarku ini. Haha
            Saya sendiri mulai rutin menaiki makhluk ini—sebentar, kok jadi terkesan tidak senonoh—. Ralat, saya sendiri mulai menunggangi makhluk ini—Lebih parah ya, maaf—. *Abaikan.
            Berawal dari resminya saya menjadi mahasiswa kira-kira dua tahun lalu, saya harus terpaksa membiasakan diri bertemu dengan makhluk ini, hampir tiap minggu. Yep, saya memang pulang kampung sesering itu. Selain karena memang kota perantauannya nggak terlalu ‘merantau’, ada alasan lain yang mungkin akan saya ceritakan di post-post selanjutnya. 
Akibatnya, saya jadi terpapar oleh macam-macam penunggu bus antarkota yang so unique. Maap sok inggris dikit. Hingga kadang-kadang saya berpikir, bahwa saya terlihat sedikit terlalu normal dibandingkan dengan para penunggu ini. Nggak percaya? Saya jabarin nih satu per satu jenis-jenisnya, tapi sebelumnya, saya mohon maaf sebesar-besarnya buat para penunggu bus kota yang lain jika tulisan ini menyinggung anda-anda semua. *ini tulus lho

Satu. Bapak,ibu,kakak,adek,mas,mbak yang baru pertama naik bus antarkota. Ciri-ciri penunggu yang satu ini, biasanya mereka dibekali oleh muka-muka bingung tapi sok cool. Kebanyakan mereka berasal dari desa dan pengen ke kota, atau rantauan yang baru pertama balik ke kampung halaman. Mereka-mereka ini adalah korban empuk bagi makelar-makelar tiket yang jumlahnya separuh dari isi terminal, ada yang nyamar jadi petugas, pengemis, pedagang asongan. Pernah satu kali sebelahan sama orang yang niat pulang kampung dari Surabaya ke Ponorogo. Dia adalah mas-mas berambut gondrong berbaju putih berkulit hitam—tapi nggak manis. Iya, saya inget detail, karena dulu dia bikin heboh satu bus.
Saat itu bus udah di Sidoarjo, abang-abang kondektur lagi nagihin uang tiket bus. Aku sempat merasakan hawa-hawa panik dari mas-mas gondrong itu, tapi saya masih stay cool, mikirnya paling-paling uangnya ilang atau gimana, terus nanti disuruh keluar sama kondekturnya *jahat ya saya mikirnya. Akhirnya datanglah si kondektur bus, dengan muka garang, mata melotot, lidah menjulur *Nggak deh, kondekturnya ramah kok haha
Terjadilah percakapan, (dalam bahasa jawa, ini saya translate ke Bahasa Jepang Indonesia)

K = Kondektur, MG = Mas-mas gondrong, S = Saya, SS=Sebelah Saya
K = Kemana mas?
MG = Ponorogo mas, berapa ya?
S = (Mampus, takut duitnya kurang nih. Bakalan ada konflik nih)
K = 25 ribu mas.
MG = (Ngeluarin duit 50 ribuan)
S = (Kecewa berat)
Setelah itu dapatlah si MG selembar tiket. Saya udah buang muka, gagal dapat hiburan. Hehe. Tapi… ternyata tiba-tiba si MG nyeletuk,
MG = “Tapi padahal tadi saya udah bayar 500 ribu ke orang yang di terminal. Katanya tinggal nunggu dikasih tiket kondektur. Katanya suruh naik dulu aja.”
S = Hah? 500 ribu? Buat bus ekonomi Surabaya-Ponorogo? Buset.
Dan dimulai dari ibu-ibu di kursi depan, bapak-bapak di sebelah ibu-ibu kursi depan, dan bapak-bapak di depan depannya lagi langsung menoleh dengan ekspresi yang priceless banget. Satu-persatu mereka dengan sok bijak menasehati mas-mas di sebelahku yang sekarang matanya udah berkaca-kaca. Ditambah lagi si MG curhat kalau sebenarnya dia dari bandara Juanda ke Terminal udah kena 300 rb juga gara-gara dengan pintarnya milih naik Avansa daripada naik taksi aja. Dan dari sopir Avansa itulah ia diarahkan ke bapak-bapak penjual tiket 500 rb itu.
In the end, si MG pun sadar dirinya terkena sindikat penipuan, setelah diteror habis-habisan oleh penunggu bus lain dengan nasihat-nasihat yang hanya membuatnya semakin nyesek. Dimanapun kau berada mas-mas gondrong yang pake baju putih dan berkulit hitam—tapi nggak manis, saya turut berduka dan berdoa atas hilangnya uang hasil rantauanmu itu, semoga diganti dengan rejeki yang berlipat. Aamiin.
Bersambung dulu ya, nyambi ­tugas kuliah dulu.


No comments:

Post a Comment