Thursday, March 16, 2017

Janji di Tanah Linengrad

Cepern, masih mentah sebenarnya, belum ada finishing touchnya, tapi nggak ada niat juga buat mempercantiknya. hehe. maaf apabila ada salah dalam kronologis penulisan sejarahnya. selamat membaca.


September, 1941

Aku ingin memeluknya lebih lama lagi, putri kecilku yang baru berumur 8 tahun. Rambut pirangnya terikat oleh pita kuning usang, kuusap lembut pipinya yang masih lembab, hingga kupandangi lekat-lekat mata birunya yang berkaca-kaca. Ah, mata itu mengingatkanku pada Marta. Apa harus terulang lagi? Bahkan rasa sakit dan penyesalan atas kehilangan Marta masih menghantuiku setiap malam, dan kini hal yang sama bisa saja terjadi pada putri kami, Liliya.

“Ayah akan datang menyusulmu, perang tidak akan berlangsung selamanya. Ayah akan menjemputmu, lebih cepat dari yang kau bayangkan.” Aku mencoba tersenyum, menggenggam tangan mungilnya, memberi harapan padanya, satu-satunya yang mungkin kulakukan saat ini.

Liliya membuang muka, menarik tangannya dari genggamanku, “Ibu juga mengatakan hal yang sama, dan dia tak pernah datang lagi. Kalian hanya ingin meninggalkanku disini.”

“Tidak, Liliya. Ayah tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian. Ayah janji,” aku melepaskan jam tangan hitam di pergelangan tangan kiriku, “Bawalah ini bersamamu, rawat baik-baik, suatu saat, ayah akan membelikanmu yang lebih bagus dari ini. Mengerti? Liliya si gadis tangguh?” Saat itu ia memberikanku pelukan terakhirnya, sebelum aku mengantarnya menuju rombongan anak-anak lain menuju kamp perlindungan.


Maret, 1942
           
Meski kami berhasil menahan tentara Nazi Jerman di selatan Linengrad dan tentara Finnish di utara dan barat Linengrad selama hampir 6 bulan, tak bisa dipungkiri, Soviet telah menderita kerugian besar. Mayat-mayat warga sipil berjatuhan setiap harinya, tidak hanya karena gempuran Panzer milik Jerman, tapi karena menderita kelaparan di tengah cuaca yang sangat buruk ini. Walaupun begitu, setidaknya dinginnya musim dingin juga mengganggu pergerakan Nazi dan Finnish, tak jarang aku melihat mereka membungkus seragam musim panas mereka dengan kertas-kertas koram dan jerami.

Linengrad telah dikepung, tidak ada akses komunikasi keluar, maupun suplai makanan. Terkadang kami, para tentara soviet, maupun prajurit sipil hanya memakan biji-bijian yang jumlahnya pun kian menipis. Ini adalah keadaan terburuk yang pernah kami alami, dan hanya akan bertambah semakin buruk.

Kalau saja kami bisa merebut Volkhov dari tangan Nazi, mungkin kami bisa membuka akses keluar melalui jalur danau Ladoga. Tapi nyatanya mereka begitu tangguh, dan seakan tak ada habisnya, meski jumlah kami pun juga tak kalah banyak, tapi senjata mereka jauh lebih unggul dari kami. Belum lagi mereka, tentara Finnish anti-soviet yang membayangi di utara perbatasan kota. Akankah ini akan jadi akhir dari Linengrad?

Agustus, 1942.

Letnan Jenderal Popov memberi intruksi untuk membangun jalan melalui danau ladoga, tentunya setelah mereka melakukan penyergapan di unit pertahanan Nazi di Voskhov. Aku terpilih menjadi prajurit di garis depan, bersama ratusan ribu yang lain. Kami telah bersumpah melindungi tanah ini, dan kami rela mempertaruhkan nyawa kami. Sementara untukku, semata-mata kulakukan untuk Liliya dan Marta. Masih tersimpan dendam yang bergemuruh atas terbunuhnya Marta di tangan Nazi Jerman. Marta hanyalah seorang dokter militer, dan Ia tidak seharusnya mati di tangan tentara biadab seperti mereka.

Rasanya dingin, sekejap kemudian, dingin itu berubah menjadi panas, menyayat, membakar lengan kananku. Aku tertembak.

“Yakov.”

“Yakov!” 

Mereka memanggil namaku, tapi aku bahkan tak bisa membuka mataku sendiri. Aku ingin menjawab seruan mereka, aku ingin membantu mereka melawan Nazi, tapi aku seakan kehilangan kendali terhadap tubuhku sendiri. Apakah aku akan mati? Bagaimana dengan Liliya jika aku pergi secepat ini?

Januari, 1943

Volkhov berhasil direbut, jalan di danau Ladoga berhasil dibangun, meski ribuan nyawa telah dipertaruhkan untuk ini. Jalan kehidupan akhirnya datang, harapan baru akhirnya tiba. Kami semua menyambut gembira berita besar ini, jam tangan hitam yang berdetak perlahan di genggamanku seakan ikut bersorak. Ayah akan datang menjemputku? Pasti. Dia akan datang dan menepati janjinya. Airmataku tak bisa kutahan lagi, aku tidak sabar menantikan akhir dari perang terbesar dalam sejarah soviet ini. Banyak hal yang ingin kuceritakan pada ayah.

Usiaku sudah hampir sepuluh tahun, aku belajar dengan baik di dalam kamp ini bersama anak-anak yang lain. Aku bahkan telah membaca buku-buku tentang kedokteran, cita-citaku untuk menjadi penerus Ibu tidak pernah luntur sedikitpun. Ayah pasti akan terkejut melihat perkembanganku, dia pasti akan bangga denganku, sama sepertiku yang bangga mempunyai ayah seorang pahlawan perang.

Juli, 1943

Nazi Jerman tidak menyerah begitu saja, mereka menyerang balik Linengrad. Bahkan setelah terbukanya blokade Linengrad, kami belum terbebas dari ancaman Nazi. Perang masih berlanjut disana, dan sama sekali tidak lebih mudah dari yang sebelumnya. Jadi karena itu ayah belum pulang, perang belum usai.

Tidak apa-apa, aku akan menunggu. Oh iya, andai saja ayah disini, aku ingin menceritakan kesempatan pertamaku membantu petugas kesehatan untuk pemeriksaan mingguan. Bahkan mereka memuji pengetahuanku tentang obat-obatan dihadapan anak-anak yang lain. Ketika ayah pulang nanti, kurasa kita tidak akan pernah membutuhkan dokter lagi, karena aku lah nantinya yang akan merawat ayah.

Desember, 1943

Pengepungan Linengrad telah berlangsung lebih dari dua tahun. Lebih dari satu juta prajurit uni soviet menjadi korban, dan lebih dari 500 ribu Nazi berhasil dikalahkan. Meskipun tanda-tanda akan berakhirnya peperangan telah nampak sedikit demi sedikit, kami yang menunggu di kamp pengungsian sama sekali tak bisa tidur nyenyak, kami mengkhawatirkan ayah-ayah kami, saudara laki-laki kami, akankah mereka akan pulang?

Hari ini aku menangis tersedu, jam tangan pemberian ayah jatuh ke dalam sungai saat aku sedang mengambil air. Meski akhirnya kutemukan, setelah mencarinya berjam-jam dibantu oleh teman-temanku, aku mendapatkannya dengan keadaan berlumpur dan jarumnya tak lagi berdetak. Apa yang harus kukatakan pada ayah saat dia pulang nanti? Aku bahkan tak bisa menjaga jam tangan ini, apalagi harus menjaga ayah setelah dia pulang nanti.

Malam itu aku menggigil dibalik selimut, terduduk diantara puluhan anak-anak lain yang bernasib sama denganku. Hampir semuanya telah tertidur, sementara aku bahkan tak bisa memejamkan mataku barang semenitpun. Rasa optimitisku, kepercayaan diriku tiba-tiba runtuh, aku tak lagi yakin ayah akan pulang, rusaknya jam tangan itu kupikir adalah pertanda buruk bahwa sesuatu yang buruk pasti telah terjadi di Linengrad.

Januari, 1944

Kemenangan berpihak pada soviet atas terusirnya tentara Jerman dan Finnish dari kota Linengrad. Penyerbuan selama dua setengah tahun akhirnya berakhir dengan kemenangan soviet. Penyerbuan paling lama dan paling mematikan dalam sejarah dunia telah usai. Kami, mengadakan pesta perayaan di kamp penampungan. Mereka memasak daging dan kentang, memenuhi seluruh area kamp dengan aroma yang sudah lama tidak kami hirup. Begini kah rasanya terbebas dari penjajahan?

Abram, teman satu penampungan denganku, dikejutkan oleh kedatangan ayahnya di akhir bulan. Ia adalah seorang prajurit berpangkat tinggi dalam militer soviet. Haru biru memenuhi kamp penampungan dengan datangnya para pahlawan perang menjemput keluarga-keluarga mereka. Satu per satu dari mereka datang, dan kemudian pergi.

Berita buruk pun begitu, berita tentang kematian berdatangan kepada orang-orang yang tidak beruntung. Jeritan histeris atau tawa histeris adalah teman kami di hari-hari selanjutnya, dan di bulan-bulan berikutnya.


Oktober, 1945.

Aku kembali ke linengrad, aku pulang. Empat tahun aku tak melihatnya, tapi aku masih hafal setiap jalannya, tak peduli seberapa banyak noda-noda darah dan reruntuhan menutupi setiap sudut kota. Jam tangan hitam rusak itu kini melingkar di lengan kananku, satu-satunya jejak bahwa aku pernah memiliki seorang keluarga.

Aku datang ke rumah lamaku, tak kusangka masih kokoh berdiri, sementara gedung penerbitan disebelahnya hampir rata dengan tanah. Aku membuka pintu kayu coklat yang merapuh, dihadapkan pada ruangan sederhana dengan tirai kelabu yang masih menutup, kursi-kursi kayu yang berderet rapi, dan meja kecil dengan bingkai foto yang kosong diatasnya.

Aku menangis lagi. Untuk kesekian kalinya. Aku berharap ketika membuka pintu itu, ayah dan ibu akan menyambutku, memberikanku pelukan hangat, menyiapkan makan siang kesukaanku, hal yang biasa kudapat dulu, hal yang tak mungkin kurasakan lagi. Aku bahkan tidak tahu dimana ayahku berada, masih hidupkah dia? Dia tidak pernah datang menjemputku, dan aku tak pernah pula menerima kabar kematiannya.

September, 1967

Langit memutih, salju memenuhi kota. Memaksa setiap rumah menutup rapat-rapat pintu dan jendela mereka. Aku bergelung malas di tempat tidur, memeluk putra kecilku yang tidur pulas di sampingku. Dia pasti sangat kedinginan, pikirku. Dia begitu kecil dan lembut, begitu manis dan damai. Aku menamainya Yakov, nama yang sama dengan ayahku. Sebab, itulah nama yang pertama kali muncul di kepalaku ketika aku melihat mata birunya yang jernih dan tenang. Itu mata ayahku, tidak salah lagi.

Saat itulah, aku mendengar ketukan pelan di depan pintu rumahku, rumah peninggalan ayah. Dengan malas aku beranjak dari tempat tidur, mengambil jaket tebal yang tergantung di kursi, lalu memakainya sembari memutar gagang pintu. Seorang pria tua dengan rambut yang seluruhnya telah memutih berdiri dihadapanku, meski tubuhnya menggigil, jelas tampak kehangatan diraut wajahnya. Ia membawa kantung transparan berisi kotak persegi berwarna hitam.

[17-03-107 MR]

No comments:

Post a Comment