Cepern, masih mentah sebenarnya, belum ada finishing touchnya, tapi nggak ada niat juga buat mempercantiknya. hehe. maaf apabila ada salah dalam kronologis penulisan sejarahnya. selamat membaca.
September,
1941
Aku ingin memeluknya lebih lama
lagi, putri kecilku yang baru berumur 8 tahun. Rambut pirangnya terikat oleh
pita kuning usang, kuusap lembut pipinya yang masih lembab, hingga kupandangi
lekat-lekat mata birunya yang berkaca-kaca. Ah, mata itu mengingatkanku pada Marta.
Apa harus terulang lagi? Bahkan rasa sakit dan penyesalan atas kehilangan Marta
masih menghantuiku setiap malam, dan kini hal yang sama bisa saja terjadi pada
putri kami, Liliya.
“Ayah akan datang menyusulmu, perang
tidak akan berlangsung selamanya. Ayah akan menjemputmu, lebih cepat dari yang
kau bayangkan.” Aku mencoba tersenyum, menggenggam tangan mungilnya, memberi
harapan padanya, satu-satunya yang mungkin kulakukan saat ini.
Liliya membuang muka, menarik
tangannya dari genggamanku, “Ibu juga mengatakan hal yang sama, dan dia tak
pernah datang lagi. Kalian hanya ingin meninggalkanku disini.”
“Tidak, Liliya. Ayah tidak akan
pernah meninggalkanmu sendirian. Ayah janji,” aku melepaskan jam tangan hitam
di pergelangan tangan kiriku, “Bawalah ini bersamamu, rawat baik-baik, suatu
saat, ayah akan membelikanmu yang lebih bagus dari ini. Mengerti? Liliya si
gadis tangguh?” Saat itu ia memberikanku pelukan terakhirnya, sebelum aku
mengantarnya menuju rombongan anak-anak lain menuju kamp perlindungan.
Maret,
1942
Meski kami berhasil menahan tentara
Nazi Jerman di selatan Linengrad dan tentara Finnish di utara dan barat
Linengrad selama hampir 6 bulan, tak bisa dipungkiri, Soviet telah menderita kerugian
besar. Mayat-mayat warga sipil berjatuhan setiap harinya, tidak hanya karena
gempuran Panzer milik Jerman, tapi karena menderita kelaparan di tengah cuaca
yang sangat buruk ini. Walaupun begitu, setidaknya dinginnya musim dingin juga
mengganggu pergerakan Nazi dan Finnish, tak jarang aku melihat mereka
membungkus seragam musim panas mereka dengan kertas-kertas koram dan jerami.
Linengrad telah dikepung, tidak ada
akses komunikasi keluar, maupun suplai makanan. Terkadang kami, para tentara
soviet, maupun prajurit sipil hanya memakan biji-bijian yang jumlahnya pun kian
menipis. Ini adalah keadaan terburuk yang pernah kami alami, dan hanya akan
bertambah semakin buruk.
Kalau saja kami bisa merebut Volkhov
dari tangan Nazi, mungkin kami bisa membuka akses keluar melalui jalur danau
Ladoga. Tapi nyatanya mereka begitu tangguh, dan seakan tak ada habisnya, meski
jumlah kami pun juga tak kalah banyak, tapi senjata mereka jauh lebih unggul
dari kami. Belum lagi mereka, tentara Finnish anti-soviet yang membayangi di
utara perbatasan kota. Akankah ini akan jadi akhir dari Linengrad?
Agustus,
1942.
Letnan Jenderal Popov memberi intruksi untuk
membangun jalan melalui danau ladoga, tentunya setelah mereka melakukan
penyergapan di unit pertahanan Nazi di Voskhov. Aku terpilih menjadi prajurit
di garis depan, bersama ratusan ribu yang lain. Kami telah bersumpah melindungi
tanah ini, dan kami rela mempertaruhkan nyawa kami. Sementara untukku,
semata-mata kulakukan untuk Liliya dan Marta. Masih tersimpan dendam yang
bergemuruh atas terbunuhnya Marta di tangan Nazi Jerman. Marta hanyalah seorang
dokter militer, dan Ia tidak seharusnya mati di tangan tentara biadab seperti
mereka.
Rasanya dingin, sekejap kemudian, dingin itu berubah
menjadi panas, menyayat, membakar lengan kananku. Aku tertembak.
“Yakov.”
“Yakov!”
Mereka memanggil namaku, tapi aku bahkan tak bisa
membuka mataku sendiri. Aku ingin menjawab seruan mereka, aku ingin membantu
mereka melawan Nazi, tapi aku seakan kehilangan kendali terhadap tubuhku
sendiri. Apakah aku akan mati? Bagaimana dengan Liliya jika aku pergi secepat
ini?
Januari,
1943
Volkhov berhasil direbut, jalan di
danau Ladoga berhasil dibangun, meski ribuan nyawa telah dipertaruhkan untuk
ini. Jalan kehidupan akhirnya datang, harapan baru akhirnya tiba. Kami semua
menyambut gembira berita besar ini, jam tangan hitam yang berdetak perlahan di
genggamanku seakan ikut bersorak. Ayah akan datang menjemputku? Pasti. Dia akan
datang dan menepati janjinya. Airmataku tak bisa kutahan lagi, aku tidak sabar
menantikan akhir dari perang terbesar dalam sejarah soviet ini. Banyak hal yang
ingin kuceritakan pada ayah.
Usiaku sudah hampir sepuluh tahun,
aku belajar dengan baik di dalam kamp ini bersama anak-anak yang lain. Aku
bahkan telah membaca buku-buku tentang kedokteran, cita-citaku untuk menjadi
penerus Ibu tidak pernah luntur sedikitpun. Ayah pasti akan terkejut melihat
perkembanganku, dia pasti akan bangga denganku, sama sepertiku yang bangga
mempunyai ayah seorang pahlawan perang.
Juli,
1943
Nazi Jerman tidak menyerah begitu
saja, mereka menyerang balik Linengrad. Bahkan setelah terbukanya blokade
Linengrad, kami belum terbebas dari ancaman Nazi. Perang masih berlanjut
disana, dan sama sekali tidak lebih mudah dari yang sebelumnya. Jadi karena itu
ayah belum pulang, perang belum usai.
Tidak apa-apa, aku akan menunggu. Oh
iya, andai saja ayah disini, aku ingin menceritakan kesempatan pertamaku
membantu petugas kesehatan untuk pemeriksaan mingguan. Bahkan mereka memuji
pengetahuanku tentang obat-obatan dihadapan anak-anak yang lain. Ketika ayah
pulang nanti, kurasa kita tidak akan pernah membutuhkan dokter lagi, karena aku
lah nantinya yang akan merawat ayah.
Desember,
1943
Pengepungan Linengrad telah
berlangsung lebih dari dua tahun. Lebih dari satu juta prajurit uni soviet
menjadi korban, dan lebih dari 500 ribu Nazi berhasil dikalahkan. Meskipun
tanda-tanda akan berakhirnya peperangan telah nampak sedikit demi sedikit, kami
yang menunggu di kamp pengungsian sama sekali tak bisa tidur nyenyak, kami
mengkhawatirkan ayah-ayah kami, saudara laki-laki kami, akankah mereka akan
pulang?
Hari ini aku menangis tersedu, jam
tangan pemberian ayah jatuh ke dalam sungai saat aku sedang mengambil air. Meski
akhirnya kutemukan, setelah mencarinya berjam-jam dibantu oleh teman-temanku,
aku mendapatkannya dengan keadaan berlumpur dan jarumnya tak lagi berdetak. Apa
yang harus kukatakan pada ayah saat dia pulang nanti? Aku bahkan tak bisa
menjaga jam tangan ini, apalagi harus menjaga ayah setelah dia pulang nanti.
Malam itu aku menggigil dibalik
selimut, terduduk diantara puluhan anak-anak lain yang bernasib sama denganku. Hampir
semuanya telah tertidur, sementara aku bahkan tak bisa memejamkan mataku barang
semenitpun. Rasa optimitisku, kepercayaan diriku tiba-tiba runtuh, aku tak lagi
yakin ayah akan pulang, rusaknya jam tangan itu kupikir adalah pertanda buruk
bahwa sesuatu yang buruk pasti telah terjadi di Linengrad.
Januari,
1944
Kemenangan berpihak pada soviet atas
terusirnya tentara Jerman dan Finnish dari kota Linengrad. Penyerbuan selama
dua setengah tahun akhirnya berakhir dengan kemenangan soviet. Penyerbuan paling
lama dan paling mematikan dalam sejarah dunia telah usai. Kami, mengadakan
pesta perayaan di kamp penampungan. Mereka memasak daging dan kentang, memenuhi
seluruh area kamp dengan aroma yang sudah lama tidak kami hirup. Begini kah rasanya
terbebas dari penjajahan?
Abram, teman satu penampungan
denganku, dikejutkan oleh kedatangan ayahnya di akhir bulan. Ia adalah seorang
prajurit berpangkat tinggi dalam militer soviet. Haru biru memenuhi kamp
penampungan dengan datangnya para pahlawan perang menjemput keluarga-keluarga
mereka. Satu per satu dari mereka datang, dan kemudian pergi.
Berita buruk pun begitu, berita
tentang kematian berdatangan kepada orang-orang yang tidak beruntung. Jeritan
histeris atau tawa histeris adalah teman kami di hari-hari selanjutnya, dan di
bulan-bulan berikutnya.
Oktober,
1945.
Aku kembali ke linengrad, aku
pulang. Empat tahun aku tak melihatnya, tapi aku masih hafal setiap jalannya,
tak peduli seberapa banyak noda-noda darah dan reruntuhan menutupi setiap sudut
kota. Jam tangan hitam rusak itu kini melingkar di lengan kananku, satu-satunya
jejak bahwa aku pernah memiliki seorang keluarga.
Aku datang ke rumah lamaku, tak
kusangka masih kokoh berdiri, sementara gedung penerbitan disebelahnya hampir
rata dengan tanah. Aku membuka pintu kayu coklat yang merapuh, dihadapkan pada
ruangan sederhana dengan tirai kelabu yang masih menutup, kursi-kursi kayu yang
berderet rapi, dan meja kecil dengan bingkai foto yang kosong diatasnya.
Aku menangis lagi. Untuk kesekian
kalinya. Aku berharap ketika membuka pintu itu, ayah dan ibu akan menyambutku,
memberikanku pelukan hangat, menyiapkan makan siang kesukaanku, hal yang biasa
kudapat dulu, hal yang tak mungkin kurasakan lagi. Aku bahkan tidak tahu dimana
ayahku berada, masih hidupkah dia? Dia tidak pernah datang menjemputku, dan aku
tak pernah pula menerima kabar kematiannya.
September,
1967
Langit memutih, salju memenuhi kota.
Memaksa setiap rumah menutup rapat-rapat pintu dan jendela mereka. Aku
bergelung malas di tempat tidur, memeluk putra kecilku yang tidur pulas di
sampingku. Dia pasti sangat kedinginan, pikirku. Dia begitu kecil dan lembut,
begitu manis dan damai. Aku menamainya Yakov, nama yang sama dengan ayahku. Sebab,
itulah nama yang pertama kali muncul di kepalaku ketika aku melihat mata
birunya yang jernih dan tenang. Itu mata ayahku, tidak salah lagi.
Saat itulah, aku mendengar ketukan
pelan di depan pintu rumahku, rumah peninggalan ayah. Dengan malas aku beranjak
dari tempat tidur, mengambil jaket tebal yang tergantung di kursi, lalu
memakainya sembari memutar gagang pintu. Seorang pria tua dengan rambut yang
seluruhnya telah memutih berdiri dihadapanku, meski tubuhnya menggigil, jelas
tampak kehangatan diraut wajahnya. Ia membawa kantung transparan berisi kotak
persegi berwarna hitam.
[17-03-107
MR]
No comments:
Post a Comment